Kamis, 24 November 2011

pemikiran kh.hasyim asy'ari tentang pendidikan


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Sosok ulama yang satu ini sudah begitu akrab di telinga umat Islam Indonesia khususnya, karena beliau merupakan pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama. Akan tetapi ketokohan dan keharuman nama beliau bukan hanya karena aktivitas dakwah beliau sebagai pendiri NU, melainkan juga karena beliau termasuk pemikir dan pembaharu Pendidikan Islam.
Pemikiran Hasyim Asy’ari dalam bidang Pendidikan lebih banyak ditinjau dari segi etika dalam pendidikan. Etika dalam pendidikan banyak diungkapkan oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin pada Bagian adab kesopanan pelajar dan pengajar. Dalam dunia pendidikan sekarang, banyak disinggung dalam kaitannya dengan prinsip-prinsip pelaksanaan pendidikan. dan para ahli psikologi pendidikan, menyinggungnya dalam kepribadian yang efektif bagi pembelajaran.
Pemikiran Hasyim Asy’ari sendiri dalam hal ini diwarnai dengan keahliannya dalam bidang hadits, dan pemikirannya dalam bidang tasawuf dan fiqh. Serta didorong pula oleh situasi pendidikan yang ada pada saat itu, yang mulai mengalami perubahan dan perkembangan yang pesat, dari kebiasaan lama (tradisonal) yang sudah mapan ke dalam bentuk baru (modern) akibat pengaruh sistem pendidikan Barat (Imperialis Belanda) yang diterapkan di Indonesia.
Untuk lebih memahami labih jelasnya tentang pemikiran KH Hasyim Asy’ari maka kita akan mengupasnya dalam bab pembahasan.
B.     Rumusan masalah
Agar pembahasan dalam makalah ini lebih terarah, maka kami akan mengajukan rumusan masalah :
1.      Bagaimana biografi KH Hasyim Asy’ari?
2.      bagaiman pemikiran KH Hasyim Asy’ari secara umum?
3.      bagaimana pemikiran KH Hasyim Asy’ari tentang pendidikan islam?
4.      bagaimana keterkaitan pemikiran KH Hasyim Asy’ari dengan pendidikan sekaran
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Biografi KH Hasyim Asy’ari
Nama lengkap K. H. Hasyim Asy’ari adalah Muhammad Hasyim Asy’ari ibn ‘Abd Al-Wahid. Ia lahir di Gedang Jombang Jawa Timur, pada hari selasa kliwon 24 Dzu Al-Qa’idah 1287 H/14 Februari 1871 M. dia berada dalam kandungan selama 14 bulan dan Hasyim menghabiskan sebagian masa kecilnya di dalam lingkungan pesantren.[1]
Pada tahun 1976 dia pindah dengan orang tuanya ke Keras Jombang hingga dia berusia 15 tahun, ayahnya mengajarkan dasar agama khususnya membaca dan menghafal Al-Qur’an, dalam usianya yang 15 tahun, dia menuntut ilmu ke berbagai pondok pesantren di jawa timur, akhirnya pada tahun 1891 dia tiba di pesantren siwalan pandji sidoarjo, yang diasuh oleh kyai Ya’qub siwalan, tterkesan dengan kecerdasannya akhirnya beliau menikahkannya dengan putrinya, Khadijah. Tepat pada usia 21 tahun, tahun 1892.[2]
Setelah menikah KH Hasyim Asy’ari bersama istrinya melakukan ibadah haji. Sekembalinya dari tanah suci, mertua KH. Hasyim Asy’ari menganjurkannya menuntut ilmu di Mekkah. Di tempat itu KH. Hasyim Asy’ari mempelajari berbagai macam disiplin ilmu, diantaranya adalah ilmu fiqh dan ilmu Hadits. Ia tinggal di Mekkah selama 7 tahun. Dan pada tahun 1900 M. atau 1314 H. KH. Hasyim Asy’ari pulang ke kampung halamannya. Di tempat itu ia membuka pengajian keagamaan yang dalam waktu yang relatif singkat menjadi terkenal di wilayah Jawa.
Tanggal 31 Januari 1926, bersama dengan tokoh-tokoh Islam tradisional, Kiai Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdlatul Ulama, yang berarti kebangkitan ulama. Organisasi ini pun berkembang dan banyak anggotanya. Pengaruh Kiai Hasyim Asy’ari pun semakin besar dengan mendirikan organisasi NU, bersama teman-temannya. Itu dibuktikan dengan dukungan dari ulama di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Pada tahun 1926 K. H. Hasyim Asy’ari mendirikan partai Nahdatul Ulama (NU). Sejak didirikan sampai tahun 1947 Rais ‘Am (ketua umum) dijabat oleh KH Hasyim Asy’ari. Ia pernah menjabat sebagai kepala Kantor Urusan Agama pada zaman pendudukan Jepang untuk wilayah Jawa dan Madura.
KH Hasyim Asy’ari wafat pada tahun 1947 di Tebuireng, Jombang Jawa Timur. Hampir seluruh waktunya diabdikan untuk kepentingan agama dan pendidikan.
B.     Pemikiran KH Hasyim Asy’ari secara umum
Sebagai seorang intelektual KH Hasyim Asy’ari telah menyumbangkan banyak hal, hal itu dapat dilihat dari beberapa pemikirannya tentang banyak hal yaitu: (1) Teologi, dalam ini dia mengatakan ada tiga tingkatan dalam mengartikan tuhan (tahwid), tingkatan pertama pujian terhadap keesaan tuhan hal ini dimiliki oleh orang awam, tingkatan kedua meliputi pengetahuan dan pengertian mengenai keesaan tuhan hal ini dimiliki oleh Ulama’, tingkatan ketiga tumbuh dari perasaan terdalam mengenai hakim agung dan hal ini dimiliki oleh para Sufi. (2) Ahlussunnah wal Jama’ah, Hasyim Asy’ari menerima doktrin ini karena sesuai dengan tujuan NU khususnya yang berkaitan dengan dengan membangun hubungan ‘ulama’ Indonesia yaitu mengikuti salah satu madzhab sunni dan menjaga kurikulum pesantren agar sesuai dengan prinsip-prinsip Ahlussunnah wal Jama’ah yang berarti mengikuti ajaran nabi Muhammad dan perkataan ulama’. (3) Tasawwuf, secara garis besar pemikiran tasawwuf KH Hasyim Asy’ari bertujuan memperbaiki prilaku umat islam secara umum serta sesuai dengan prinsip prinsip ajaran islam, dan dalam banyak hal pemikirannya banyak dipengarui oleh pemikiran Al-Ghazali. (4) Fiqh, dalam hal ini ini beliau menganut aliran madzhab empat yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali. (5) Pemikiran Politik, pada dasarnya pemikiran politik Hasyim Asy’ari  mengajak kepada semua umat islam untuk membangun dan menjaga persatuan, menurutnya pondasi politik pemerintahan islam itu mempunyai tiga tujuan yaitu: memberi persamaan bagi setiap muslim, melayani kepentingan rakyat dengan cara perundingan, menjaga keadilan.[3]
C.    Pemikiran KH Hasyim  Asy’ari tentang pendidikan
Hasyim Asy’ari yang dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan pesantren, serta banyak menuntut ilmu dan berkecimpung secara langsung di dalamnya, di lingkungan pendidikan agama Islam khususnya. Dan semua yang dialami dan dirasakan beliau selama itu menjadi pengalaman dan mempengaruhi pola pikir dan pandangannya dalam masalah-masalah pendidikan.
Hasyim asy’ari adalah seorang penulis yang produktif dalam semua bidang keilmuan islam, namun dari sudut epistemoliginya ada kesimpulan dari pemikirannya yaitu dia memiliki pemikiran yang khas dan tipikal, ia selalu konsisten mengacu pada rujukan yang memliki sumber otoritatif, yakni Al-qur’an dan Al-Hadits, disamping itu yang menjadi tipikal karya karyanya adalah kecenderungannya terhadap madzhaab Syafi’i.
Salah satu karya monumental Hasyim Asy’ari yang berbicara tentang pendidikan adalah kitabnya yang berjudul Adab al Alim wa al Muta’allim, pembahasan terhadap masalah pendidikan lebih beliau tekankan pada masalah etika dalam pendidikan, meski tidak menafikan beberapa aspek pendidikan lainnya.[4] Di antara pemikiran beliau dalam masalah pendidikan adalah:
a.       Signifikasi pendidikan
Signifikasi pendidikan menurut KH Hasyim Asy’ari adalah upaya memanusiakan manusia secara utuh, sehingga manusia bisa taqwa kepada Allah SWT, dengan benar benar mengamalkan segala perintahnya dan menegakkan keadilan dimuka bumi, beramal shaleh dan maslahat, pantas menyandang predikat sebagai makhluk yang paling mulia dan lebih tinggi derajatnya dari segala jenis makhluk Allah yang lainnya.




b.      Tujuan pendidikan
Tujuan pendidikan meurut Hasyim Asy’ari adalah (1) menjadi insane yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT, (2) insan yang bertujuan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.[5]
c.       Karakteristik guru
KH. Hasyim Asy’ari menyebutkan karakteristik yang harus dimiliki oleh seorang guru antara lain[6] :
ü Cakap dan professional
ü Kasih sayang
ü Berwibawa
ü Takut pada Allah, tawadhu’, zuhud dan khusyu’
ü  Menjaga diri dari hal hal yang   menurunkan martabat
ü  Pandai mengajar
ü  Berwawasan luas
ü  Mengamalkan ajaran Al- Qur’an dan Al-Hadist

d.      Tugas dan Tanggung Jawab Murid
Etika dalam belajar
Etika terhadap guru
Etika terhadap pelajaran
Membersihkan hati
Memperhatikan guru
Memperhatikan ilmu yang bersifat fardhu ‘ain
Membersihkan niat
Mengikuti jejak guru
Berhati-hati dalam menanggapi ikhtilaf para ulama
Pandai mengatur waktu
Memuliakan guru
Bercita cita tinggi
Menyederhanakan makan dan minum
dan Berhati-hati
Bersabar terhadap kekerasan guru
Senantiasa menganalisa dan menyimak ilmu
Menyedikitkan tidur
Duduk dengan rapi
Menanyakan apa yang tidak difahami
Menghindari kemalasan
Berbicara sopan
Selalu membawa catatan
Meninggalkan hal-hal yang kurang berfaedah
Tidak menyela guru
Belajar secara continue, dan menanamkan rasa antusias belajar.[7]

e.       Sistem pendidikan
Dalam system pendidikan KH Hasyim Asy’ari berlandaskan Al-qur’an sebagai paradigma nya dalam hal ini, karena dengan berlandaskan dengan wahyu tuhan terwujud suatu sitem pendidikan yang koomperhensif yaitu meliputi tiga aspek kognitif, afektif dan psikomotorik, Ada beberapa nilai nilai yang harus dikembangkan dalam pengelolahan sistem pendidikan islam, antara lain : nilai teosentris, nilai sukarela dan mengabdi, nilai keaarifan, nilai kesederhanaan, nilai kebersamaan, restu pemimpin (kyai).[8]
f.       Kurikulum pendidikan
Kurikulum yang ditetapkan oleh KH Hasyim Asy’ari adalah; Al-Qur’an dan Hadist, fiqih, ushul fiqih, nahwu, shorof, dan cenderung menerapkan system kurikulum pendidikan yang mengajarkan kitab kitab klasik.
g.      Metode pengajaran
Dalam menentukan pilihan metode pembelajaran harus disesuaikan dan mempertimbangkan tujuan, materi, maupun lingkungan pendidikan, bila mengacu pada pesantren maka metode yang digunakan adaalah metode yang konvensional yaitu sistem sorogan, bandongan, wetonan, dengan kajian pokok kitab kitab klasik.
h.      Proses belajar mengajar
Sesungguhnya keberhasilan dalam proses belajar mmengajar sangat dipengarui oleh berbagai faktor di antaranya; guru, murid, tujuan pendidikan, kurikulum dan metode, dalam hal ini pemikiran KH Hasyim Asy’ari bisa dikatakan masih bersifat tradisionalis, karena dia memposisikan guru sebagai subyek dan murid sebagai obyek, guru tidak hanya sebagai transmitor pengetahuan kepada peserta didik, tetapi juga sebagai pihak yang memberi pengaruh secara signifikan terhadap pembentukan prilaku (etika) peserta didik.[9]
i.        Evaluasi
Menurut KH Hasyim Asy’ari dalam proses evaluasi tidak hanya untuk mengetahui sejauh mana tingkat pengusaan murid terhadap materi namun juga untuk mengetahui sejauh mana upaya internalisasi nilai nilai dalam peserta didik bias diserap dalam kehidupan sehari hari.
Adapun untuk mengukur tingkat keberhasilan seorang guru dalam mendidik akhlak pada peserta didik lebih ditekankan kepada pengamatan kehidupan santri sehari harinya. Sehingga mengenai hal evaluasi tidak menggunakan standarisasi nilai, namun mereka sudah dianggap baik bila mereka sudah bisa mengamalkan ilmu dalam kehidupan sehari hari.


D.    Keterkaitan Pemikiran KH Hasyim Asy’ari Dengan Pendidikan Sekarang
Seperti yang telah dijelaskan bahwa pemikiran KH Hasyim Asy’ari sesungguhnya lebih menitik beratkan pada persoalan hati (qolb) sehingga yang menjadi hal terpenting atau modal dalam menuntut ilmu adalah niat yang tulus dan ikhlas dan mengaharapkan ridha Allah Swt, selain itu dia juga sangat menekankan penanaman akhlak dan moral terhadap siswa, jika dikaitkan dengan pendidikan sekarang maka pemikiraan KH Hasyim Asy’ari berhubungan erat dengan aspek afektif siswa, pada dasarnya pemikiran KH Hasyim Asy’ari mengenai tujuan atau pun dasar yang digunakan adalah sangat tepat bahkan sangat sesuai karena menggunakan dasar Al-Qur’an dan Al-Hadist. Karena dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist terwujud suatu system pendidikan yang koomperhensif yaitu kognitif, afectif dan psikomotorik.
Pemikiran KH Hasyim Asy’ari memunculkan implikasi terhadap pendidikan islam tradisional pada umumnya, dan lembaga yang berada di naungan NU pada khusunya, diantaranya antara lain :
Pola kepemimpinan dalam pemikiran KH Hasyim Asy’ari cenderung mengarah pada pola kepemimpinan yang kharismatik, dimana pengaruh sang pemimpin lebih ditekankan pada garis keturunan, pola kepemimpinan yang seperti ini bisa dikatakan sebagai suatu pola kepemimpinan yang tidak demokratis, jadi bisa dikatakan pola ini tidak cocok di terapkan dalam pola kepemimpinan sekarang. Dalam pola pengajaran KH Hasyim Asy’ari lebih cenderung bahwa guru adalah sebagai subyek yang harus menstransfer ilmu, jika kita kaitkaan dengan pola pendidikan saat ini maka hal tidak terlalu efektif karena hal itu menyebabkan siswa akan cenderung pasif dan kurang bisa mengembangkan pengetahuan, karena mereka cenderung hanya mengandalkan ilmu yang diberikan oleh guru.
Mengenai evaluasi menurut pemikiran KH Hasyim Asy’ari memang dalam proses evaluasi tidak menggunakan standarisasi nilai, namun jika ditelisik sistem pendidikan islam  sebenarnya proses itu sudah menilai dari segala aspek yaitu aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dari pemikiran KH Hasyim Asy’ari yang telah digambarkan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pemikiran KH Hasyim Asy’ari masih bercorak tradisionalis, tetapi pemikiran KH Hasyim Asy’ari tetap sesuai dan tepat jika diterapkan dalam pendidikan islam saat ini, terutama dalam beberapa aspek antara lain: dalam hal tujuan pendidikan, materi dan dasar yang digunakan yaitu Al-Qu’an dan Al-Hadist. 
 BAB III
 PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari pemaparan yang telah dijelaskan, dapat kami simpulkan bahwa pemikiran KH Hasyim Asy’ari dapat digambarkan dalam beberapa hal, yaitu:
1.      Pandangan terhadap ilmu dan agama, signifikasi pemikiran KH Hasyim Asy’ari adalah upaya memanusiakan manusia secara utuh, sehingga manusiaa bisa taqwa kepada Allah SWT dan mengamalkan segala peintahnya, sehingga pantas mendapatkan predikat makhluk yang lebih tinggi derajatnya dari makhluk lainya.
2.      Pemikiran pendidikan KH Hasyim Asy’ari senantiasa mendasarkan pada nilai moral dan etika.
3.      Menekankan guru sebagai subyek yang bertugas untuk mentransfer ilmu, dan murid sebagai obyek atau penerima ilmu.
4.      Proses evaluasi tidak menggunakan standarisasi nilai tetapi menggunakan pengamatan tingkah laku siswa dalam kehidupan sehari hari.
5.      Sistem mendidikan yang berdassrkan Al-qur’an sudah merupakan sitem pendidikan yang koomperhensif yang meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.
6.      Kekonsistensinan KH Hasyim Asy’ari dalam menginternalisasikan Ahlussunnah Wal Jama’ah.
7.      Konsisten mengacu pada rujukan Al-Qur’an dan Al-Hadist, dan cenderung mengacu pada madzhab syafi’i.
B.     Saran
Dalam suatu pemikiran pasti ada sisi baik yaan dapat diambil maka dari sini kita dapat mengatakan dan berpesan terhadap pendidikan islam saat ini agar lebih mmemperbaiki kualitas pendidikannya dengan dasar Al-Qur’an dan Al-Hadist.

DAFTAR PUSTAKA

Mas’ud, Abdurrahman, Intelektual Pesantren, ( yogyakarta : LKIS, 2004)
Khuluq, Lathiful, Fajar Kebangunan Ulama’, ( Yogyakarta : LKIS, 2001)
Noor, Rohinah M, KH. Hasyim Asy’ari Memordenisasi NU dan Pendidikan Islam, (Jakarta: Grafindo Khazanah ilmu, 2010)
Suwendi, Sejarah Dan Pemikiran Pendidikan Islam, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2004)
http://udhiexz.wordpress.com/2009/05/12/pemikiran-k-h-hasyim-asy%E2%80%99ari/
Udhiexz, http://habibah-kolis.blogspot.com/2008/01/hasyim-asyari.html






































                                                                                  






















[1] http://udhiexz.wordpress.com/2009/05/12/pemikiran-k-h-hasyim-asy%E2%80%99ari/
[2] Abdurrahman Mas’ud, Intelektual Pesantren, ( yogyakarta : LKIS, 2004) hal 198.
[3] Drs. Lathiful Khuluq, MA, Fajar Kebangunan Ulama’, ( Yogyakarta : LKIS, 2001) hal 43-54.
[4] Udhiexz, http://habibah-kolis.blogspot.com/2008/01/hasyim-asyari.html
[5] Rohinah M noor, MA, KH. Hasyim Asy’ari Memordenisasi NU dan Pendidikan Islam, (Jakarta: Grafindo Khazanah ilmu, 2010) hal 18-19.
[6] Suwendi M.Ag, Sejarah Dan Pemikiran Pendidikan Islam, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2004), hal 153.
[7] Udhiexz, http://habibah-kolis.blogspot.com/2008/01/hasyim-asyari.html
[8] Ibid, KH. Hasyim Asy’ari Memordenisasi NU dan Pendidikan Islam, hal 57-58.
[9] Ibid, Sejarah Dan Pemikiran Pendidikan Islam, hal 154.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar